Kebahagian untukmu
Bukan karena kita telah banyak melakukan suatu hal yang orang lain tidak lakukan atau belum lakukan,
belum tentu kita akan bahagia.
Ada sesuatu yang dipikirkan oleh banyak orang. Mereka pikir jika seseorang melakukan sesuatu hal lebih
banyak daripada orang lain, maka seseorang itu akan bahagia. Mereka pikir itu nyata, dan
akan menjadi kenyataan jika mereka melakukannya.
"
Mereka pikir itu nyata, dan akan menjadi kenyataan jika mereka
melakukannya"
Banyak orang
berfikiran pula, jika banyak uang akan bahagia.
Banyak orang
berfikiran, jika modis dan selalu mengikuti trend maka akan bahagia.
Banyak orang
berfikiran jika mempunyai segudang prestasi maka akan bahagia.
Mungkin untuk sebagian
orang itu membahagiakan, tapi untuk sebagian lagi hal tersebut DI PAKSAKAN untuk disukai.
Itulah kenapa para
orang tua berlomba-lomba untuk MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA, memberikan
pengaruh-pengaruh ketika dewasa, seperti ketika ingin melanjutkan studi ke
bangku perkuliahan.
“ kamu harus masuk jurusan ekonomi. Bisnis tepat untuk menghasilkan uang lebih efektif dan cepat!”
“ kamu harus jadi
dokter!. Gajinya gede”
“ kamu harus masuk ke
arsitek. Biar nerusin impian bapak yang dulu tidak terjadi”.
Mungkin dari kita menerima
saja apa perkataan orang tua, dan menurut kita apa yang di sampaikan orang tua
kita pasti benar. Yah memang benar apa yang dikatakan orang tua kita kepada
kita. Mereka ingin membantu kita menjadi bahagia. Tapi yang harus digaris
bawahi adalah kebahagian itu sendiri.
Apakah kita bahagia
ketika kita menginginkan menjadi seniman lukis tapi disuruh masuk ekonomi?
Apakah kita akan
bahagia ketika kita menginginkan menjadi guru sedangkan kita disuruh untuk
masuk ke jurusan kedokteran?
Apakah kita akan
bahagia ketika kita menginginkan menjadi wartawan tapi disuruh untuk masuk
jurusan arsitek?
Bahagia bukan karena
mendapatkan lebih banyak daripada orang lain. Bahagia itu melakukan sesuai yang
diinginkan.
“Bahagia itu melakukan sesuai yang di inginkan”
Banyak orang di dunia ini
terpaksa untuk tidak menuruti kata hatinya, untuk melakukan keinginannya. Dunia
merenggutnya dan memaksanya untuk beralih ke sesuatu yang tidak diinginkannya.
Mau tidak mau mereka pikir harus melakukannya.
Orang tua, kakak,
saudara, gaji yang kecil, saingan yang banyak, pekerjaan yang tidak prestis,
sulit untuk mencapainya.
Siapa yang tahu diri
kita sekarang?. Tidak lain dan tidak bukan adalah diri kita sendiri
Bukan orang tua, kakak
atau saudara.
Apakah karena gaji
yang kecil, saingan yang banyak, pekerjaan yang tidak prestis atau sulit untuk mencapainya? kita akan meninggalkan keinginan begitu saja?
Michel Jackson selalu
perfeksionis dalam pekerjaannya, sampai-sampai ia harus turun tangan ketika
berlatih bersama pengiring tarinya. “ kamu salah, harusnya begini!”, “ kamu
harus lebih luwes yah?”, “ kamu harus begini, begitu?”. Michel Jackson seperti
itu karena ia ingin pertunjukannya di panggung menjadi lebih baik.
Thomas Alva Edison
adalah orang yang menginginkan menemukan sebuah benda yang dapat menghasilkan
sinar. Berkat kerja kerasnya, hingga ia gagal sampai ribuan kali dan akhirnya
ia mendapatkan apa yang di inginkannya, lampu lalu di temukan.
Michel Jackson mungkin
tidak akan bahagia jika dirinya harus diam ketika ia menginginkan pertunjukan
panggungnya menjadi spektakuler.

Thomas mungkin tidak
akan bahagia jika ia menghentikan aliran keinginannya untuk menemukan sebuah
benda yang dapat bersinar sendiri.
Bahagia bukan karena
kita mendapatkan lebih banyak daripada orang lain. Tapi bahagia adalah
melakukan sesuatu yang kita ingin.
Tulisan saya mungkin
jelek dan mungkin orang-orang mencemohnya. Tapi ini adalah proses yang saya
inginkan.
CatatanR

Komentar
Posting Komentar